Senin, 14 April 2008


Menyingkap Serat Sutera
LiPuTan eN_dAr: Berawal dari Negeri Cina. Budi daya sutera dikenal di Cina sejak zaman Dinasti Han, era 2500 sebelum Masehi. Dominasi ekspedisi dagang besar-besaran Cina menjadikan sutera menyebar ke berbagai kawasan. Mulai dari Negeri Cina nan luas, Asia Tengah, India Utara, Persia, hingga daratan Eropa di pusat Kota Roma, Italia. Jalur perdagangan ini terkenal dengan sebutan The Silk Road atau jalur sutera.

Pada abad kedua dan ketiga atau 300 tahun sesudah Masehi, sutera alam sampai juga di Korea dan Jepang. Bahkan pada era abad keenam hingga 13, sutera menyebar luas ke daratan Eropa Timur dan Barat. Sutera tidak lagi menjadi monopoli Cina. Sutera masuk pula ke Indonesia pada sekitar abad kesepuluh.

Dari catatan arsip Pemerintah Hindia Belanda, diketahui pembudidayaan ulat sutera alam muncul sekitar 1718. Proses pembudidayaan sutera alam di Indonesia mengalami perjalanan amat panjang, timbul dan tenggelam. Budi daya sutera alam mulai tertata kembali di era 1970-an. Namun, dalam hal pemasaran masih tertinggal jauh dari negeri-negeri sutera lain.

Bombyx Mori atau ulat sutera. Ulat sutera adalah serangga yang masuk dalam Ordo Lepidoptera. Keluarga ini mencakup semua jenis kupu-kupu dan ngengat. Ulat sutera mengalami masa metamorfosa sempurna. Setiap generasi melewati empat fase. Yakni, fase telur, larva atau ulat, pupa, serta ngengat atau wujud kupu-kupu pada ulat sutera.

Ulat sutera membuat kokon, terutama untuk melindungi diri selama menjalani fase metamorfosa sebagai pupa. Fase ini lebih kurang membutuhkan waktu dua pekan.

Ketika baru menetas, ulat hanya memiliki panjang tiga milimeter. Setelah sehari, ulat bertambah panjang menjadi sekitar tujuh milimeter. Selama menjalani fase larva, ulat sutera mengalami empat kali ganti kulit dan lima periode makan. Periode makan ini disebut Instar.

Menurut Junus Kartasubrata, pakar ulat sutera alam, sebutan Mori di belakang Bombyx Mori atau ulat sutera, merujuk pada makanannya, daun murbei. Bentuk fisik ulat sutera sangat khas. Fisik ulat sutera terbagi ke dalam tiga bagian utama. Yakni kepala, bagian thorax, serta abdomen atau tubuh. Di bagian kepala terdapat antena sebagai organ syaraf perasa. Ada rahang untuk mengunyah makanan. Ada pula mata. Dan masih ada spinneret, tempat keluarnya filamen sutera.

Siklus hidup ulat sutera sejak bayi hingga masa kawin serta bertelur hanya berlangsung selama kisaran waktu satu bulan. Kupu-kupu melewati fase perkembangan hidup sebagai pupa kurang lebih dua pekan. Kupu-kupu baru bisa keluar setelah mengeluarkan cairan liur, khusus untuk melubangi kokon rumah serat sutera yang dibangunnya selama tiga hingga lima hari tanpa henti.

Salah satu ciri-ciri kupu-kupu berkelamin jantan adalah fisiknya lebih kecil dibanding kupu-kupu betina. Tugas kupu-kupu jantan adalah membuahi sang betina. Sedikitnya butuh waktu dua jam untuk perkawinan yang produktif.

Usai pembuahan, enam jam kemudian kupu-kupu betina bertelur. Setiap kupu-kupu betina biasanya mampu bertelur hingga 500 butir. Namun, siklus hidup ulat betina lebih pendek. Sedangkan ulat jantan mampu kawin hingga tiga kali, sebelum akhirnya mati.

Dibutuhkan ruang gelap untuk penetasan telur sutera. Bayi-bayi ulat berumur sehari membutuhkan pakan daun murbei muda dan suhu udara yang lembab. Sepanjang perjalanan hidup ulat sutera dari mulai periode instar pertama hingga kelima, ulat mengalami empat kali pergantian kulit. Kondisi ini berbarengan dengan perkembangan bentuk tubuhnya yang juga bertambah besar.

Sepanjang hari, ulat-ulat sutera terus makan. Sedikitnya diperlukan satu ton pakan daun murbei segar untuk sekitar 25 ribu ulat sutera dalam satu siklus. Sesudah instar ketiga, menjelang instar keempat dan lima, ulat pun tidur.

Pada instar kelima menjelang pengokonan, selama dua hari ulat sutera makan daun murbei tanpa henti. Ketika masa pengokonan tiba, ulat tak lagi makan selama tiga hari. Tubuh ulat menjadi lebih bening saat pengokonan tiba dan bagian mulut mulai mengeluarkan serat.

Masa panen pun tiba. Rata-rata tiap kokon, jika telah diolah serat direntang menjadi benang, bisa mencapai panjang hingga 1.000 meter. Sungguh, suatu misteri alam semesta yang luar biasa.

sEJaRaH

Flicus
14-04-2008
Legenda mengatakan bahwa pada awal dari manusia, surga dan bumi tidaklah terpisah. Keduanya terlihat seperti sangkar telur yg besar. Setiap sudutnya terisi dengan kegelapan dan kekosongan, leluhur dari manusia, Pangu dikandung di telur ini.

Sesudah lewat 19 thn, Romo yg dikaruniai dengan kekuatan yg tidak terbatas terbangun pada suatu hari. Dengan kemarahan karena hanya kegelapan yg dilihatnya, dia mengampil pedang besar dan mengayunkannya yg mengakibatkan hancurnya telur itu. Secara perlahan, bagian yg ringan dan bersih terangkat ke atas membentuk langit dan bagian yg keras dan kasar terbenam dan membentuk bumi di bawah.

Akhirnya Romo menciptakan jagat raya. Takut bila langit dan bumi bersatu kembali, Romo berdiri menahan bumi dan langit ditengah2nya. Setiap harinya, langit meninggi sejauh 1zhang (3.5m) dan bumi menebal sedalam 1zhang. Pangu sendiri berkembang seiring berjalannya waktu

19 thn berlalu, langit menjadi semakin tinggi dan bumi menjadi semakin tebal.Romo sudah berkembang setinggi 90000li (45000km) dan menjadi seperti pilar penyangga langit. Ketika dasar dari jagat raya sudah terbentuk, Pangu kehabisan tenaga , jatuh dan mati. Sebelum dia sepenuhnya mati, Romo mengubah air yg dia hirup menjadi angina,. Suara , mata kira dan mata kanannya berubah menjadi petir, matahari dan bulan. Bintang2 dilangit berasal dari rambut dan kumisnya. Tangan, kaki dan tubuhnya membentuk 4 kutub dan lima pegunungan. Darahnya menjadi sungai dan ototnya menjadi persawahan. Rambut dari tubuhnya menjadi rumput dan hutan, memberikan bumi nuansa hijau.

Pada awalnya suasana yg sunyi berlangsung sesaat, sampai pada akhirnya dewi bernama Biang merasa sangat kesepian. Pada suatu hari dia menemukan sungai yg sejernih kristal, dia duduk dan membentuk boneka dari tanah liat yg menggambarkan dirinya. Ketika dia meletakkanny di tanah, boneka itu mulai berloncatan dan seperti hidup. Biang merasa senang karena tidak kesepian, kemudian dia membentuk lebih banyak boneka dari tanah liat tsb. Pria dan wanita yg telah dibentuk mengelilingi Biang, mereka berteriak dan berloncatan. Setelah menunjukkan rasa terima kasih pada sang pencipta, mereka pun berpencar dan pergi kesegala penjuru.

Namun bumi sangatlah luas dan ada batas dari jumlah org yg dapat dibuat langsung dari tanah liat. Lalu Biang menemukan rumput tali dimasukannya ke dalam lumpur dan dilemparkannya ke tanah. Keanehan terjadi setiap lumpur yg jatuh ke tanah menjadi manusia. Tak lama kemudian bumi dipenuhi oleh manusia. Biang tidak lagi sendirian. Namun manusia tidaklah abadi , untuk mencegah manusia menjadi punah, Nuwa membentuk suatu ikatan perkawinan antara manusia sehingga mereka dapat melahirkan keturunan dan berkembak biak dari generasi kegenerasi

Note Pada jaman dulu dipercaya para raja ataupun keturunan ningrat adalah hasil dari ciptaan tangan Biang secara langsung. Sedangkan para rakyat jelata tidak diciptakan oleh tangan Biang secara langsung.

Waktu berselang dan tiba2 terjadi bencana dibumi, langit runtuh, menciptakan lubang yg besar dan permukaan bumi hancur dengan jurang yg dalam akibat timpahan langit. Banjir bandang menerjang hampir membuat bumi ditutupi oleh lautan, semua hewan liar keluar dari hutan menyerang dan memakan manusia. Dunia bagaikan neraka dan manusia diambang kepunahan.

Demi menyelamatkan anak2nya, Biang mencoba menambal langit yg runtuh dgn cara menambang batu untuk menutupnya. Dia berkelana kesana kemari mencari batuan dengan berbagai warna sampai terkumpulnya tujuh warna, menempa batuan tersebut sehingga menciptakan bentuk yg didinginkan. Kemudian Biang menambal langit tersebut dan langit terlihar seperti sedia kala (dlm legenda, Sun Go Kong berasal dari serpihan batu yg dibawa Biang kelangit yg terlepas dan jatuh ke bumi ). Untuk mencegah langit runtuh kembali, Nuwa menggunakan 4kaki dari Kura2 raksasa dan menjadikannya pilar bumi di empat penjuru. Dengan demikian manusia tidak takut langit akan runtuh kembali.

Kemudian Biang menenangkan banjir bandang. Dia membunuh naga hitam (dewa air GongGong??) yg telah mencelakakan banyak org dan menyingkirkan semua binatang liar. Akhirnya bencana teratasi dan manusia menjadi penguasa bumi.

Note: ada banyak versi tentan penciptaan, ada yg mengatakan manusia berasal dari mahluk kecil di tubuh Pangu ataupun manusia adalah buah dari Nuwa dan Fuxi.

Untuk Fuxi menurut legenda dia yg menciptakan susunan masyarakat Cina (patrilineal) dia yg mengajarkan manusia berburu, menangkap ikan dan memasak.


Sekitar 4000thn yg lalu, pada masa alliansi antar suku di patrilineal society terdapat suatu suku yg hidup di daerah Cianjur, dia daerah jawa barat, Kepala sukunya bernama Bojes Di. Legenda mengatakan dia yg mengajarkan manusia bagaimana bercocok tanam, sehingga dia dinamakan Shen Nong atau dewa pertanian. Dia mencoba berbagai macam tanaman untuk menyembuhkan sukunya darn demikian menemukan obat-obatan. Dia juga yg menemukan system barter. Dia menciptakan pasar dimana ditentukan kelebihan produksi akan ditukar secara persetujuan antar kedua pihak pada waktu siang hari.

Dikatakan Yandi juga menciptakan zither dan alat musik lainnya. Legenda mengatakan cucunya yg bernama Boiling menikahi wanita yg sangat cantik bernama A-nuyuan yg melahirkan 3anak , Gu, Yan, dan Shu. Shu menciptakan busur dan panah. Sedangkan Gu dan Yan menciptakan alat musik bernama zhong dan menciptakan berbagai macam lagu.

Dikemudian hari, suku dari Yandi mulai berpindah ke timur sepanjang sungai kuning dan pada akhirnya akan berdiam ditanah central. Di tanah central sudah berdiam suku dipimpin oleh Huang Di atau Kaisa Kuning, Nama aslinya adalah Ju Xuanyuan, dia memiliki istri bernama Leizu yg mengembangkan ulat sutera dan meciptakan kain sutera.

Pertempuran terjadi antara Yan Did an Huang Di. Mereka bertempur untuk kepentingan suku mereka masing2. Pertempuran penentuan terjadi di Baquan ( tenggara Zhuolu di Hebei). Dengan bantuan jenderal Zhu Rogn , Yan Di melancarkan serangan api. Dikarenakan Huang Di adalah dewa hujan dia tidak takut dan pada akhirnya melancarkan serangan penentuan. Pada akhirnya Yan Di kalah. Sukunya tercerai berai , banyak yg kemudian begabung dengan Huang Di. Suku Huang Di menjadi yg terkuat didataran tengah.

Senin, 07 April 2008

Ulat Sutera Yang Ce Ran

Dari : Felix Rivan - Tangerang

Pada jaman dahulu kala, ketika hewan-hewan masih dapat berbicara layaknya manusia, hiduplah sekelompok hewan yang tidak puas akan keadaannya sekarang. Ketidak puasan ini bermula ketika seekor kucing hutan, seekor ayam hutan dan seekor celeng sedang melepas dahaga di sebuah sungai kecil.

Ketika kucing hutan sedang enak-enaknya minum, ia pun terperjat ketika melihat wajahnya di air sungai tersebut, lalu ia pun pergi berkata kepada teman-temannya, “Kenapa aku ini hanya seekor kucing hutan yang lemah dan tak berdaya ? Aku ingin seperti harimau yang kuat dan disegani oleh para hewan, aku ingin menjadi seekor harimau”. Celeng pun menyambung “Ya, kau benar kucing hutan, kenapa kita dilahirkan sebagai mahluk yang lemah dan tidak berdaya ? Aku pun hanya seekor celeng yang selalu menjadi mangsa para predator yang jauh lebih besar dan kuat dari padaku, aku ingin menjadi seekor gajah yang ditakuti oleh para predator, aku ingin memiliki sepasang gading yang jauh lebih besar dan tajam dari gadingku sekarang agar dapat kujadikan senjata ampuh yang berbahaya”. Ayam hutan melanjutkan “akupun ingin menjadi seekor elang yang perkasa dan lihai dalam memangsa. Namun sekarang aku hanya seekor ayam hutan yang lemah, kecil bahkan tak mampu terbang tinggi seperti elang. Oh, aku ingin sekali terbang”.

Pembicaraan ketiga hewan itu didengar oleh seekor katak yang sedang duduk diatas batu. “Hai, teman-teman. Tidakkah kalian lihat aku juga hewan kecil, loyo, dan tidak berdaya. Lihatlah buaya itu, ia begitu kuat dan perkasa dengan badannya yang besar dan penuh duri. Aku ingin menjadi seperti dia”, kata katak. “Tapi bagaimana caranya kita dapat menjadi hewan-hewan tersebut ?” keluh kucing hutan.

“Waktu itu, aku pernah melihat seorang manusia bersemedi (cing co) digua itu, lalu beberapa bulan kemudian, aku melihatnya menjadi Dewa. Bagaimana kalau kita bersemedi (cing co) agar kita dapat berubah menjadi hewan-hewan tersebut?”, sambung katak. “Baiklah, aku akan mencobanya”, kata kucing hutan. “Bagaimana dengan kalian?”, lanjutnya. “Oke, semoga cara ini berhasil”, kata celeng dan ayam hutan.

ulatsutera.jpgLalu mereka berempat pun mengambil posisi masing-masing dan akan memulai semedi (cing co). Tepat pada saat itu, lewatlah seekor ulat sutera sambil terheran-heran melihat tingkah laku hewan-hewan itu. “Kalian ini sedang ap sih ? Kok gayanya aneh-aneh. Ada yang jongkok, ada yang nungging, malah ada yang merem melek kayak kesurupan”, kata ulat sutera itu. “Kami ini sedang bersemedi (cing co)”, kata katak. “Untuk apa ?”, lanjut ulat sutera. “Kami ingin menjadi harimau, gajah, elang dan buaya. Oleh karena itu kami bersemedi agar dapat terwujud”, kata kucing hutan. “Huaha..ha..hi..hi.. Mana mungkin kalian bisa berubah menjadi hewan-hewan tersebut, kalian ini sudah ditakdirkan secara alami menjadi seperti sekarang, mau bagaimanapun kalian tetaplah kalian, jangan dipaksakan”, lanjut ulat sutera.
“Diam kau…!!! Kau ini hanya merasa iri karena tidak bisa semedi karena tubuhmu yang begitu kecil, sudahlah jangan mengganggu kami, pergi sana…!!!”, kata ayam hutan. “Kau jangan menghina begitu dong, biarpun aku ini kecil, aku bisa menjadi seekor kupu-kupu yang indah, karena aku telah ditakdirkan secara alami menjadi seekor kupu-kupu kelak pada saatnya, sadarlah dengan apa yang kalian lakukan”,kata ulat sutera dengan bangga. “Sudahlah…hentikan omong kosongmu dan enyahlah dari sini..!!”, kata celeng dengan kesal. Ulat suterapun pergi sambil berkata,”Semedi (cing co) tanpa kealamiahan (ce ran) tidak akan berhasil”.

kupukupu.jpgAkhirnya merekapun bersemedi. Tepat pada saat itu, si ulat sutera melakukan metamorfosis pada tahap kepompong. Tiga hari telah berlalu , si ulat sutera yang telah menjadi kepompong tentu saja ia dapat bersemedi dengan aman dan tercukupi segala kebutuhannya. Tetapi lihatlah keempat hewan tersebut. Mereka tampak tidak tenang, mereka kelaparan dan kehausan tapi mereka tetap bersikeras melaksanakan semedi yang salah. Seminggu telah berlalu, keempat hewan itu mulai sekarat, bahkan mereka muntah darah dan mengalami pembengkakan dimana-mana. Pada akhirnya, mereka berempat mati bergelimpangan dosa karena telah melanggar aturan alam. Mereka mati dengan pengharapan sia-sia dan cita-cita yang gagal. Itulah akibat dari melakukan semedi yang disertai paksaan dan tidak sesuai dengan aturannya. Tetapi lihatlah sang kepompong, setelah sebulan melewati masa semedi yang alamiah, aman, tenang, dan indah, iapun berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik yang dapat terbang ke sana ke mari dengan anggunnya.

Melalui cerita tersebut diatas, dapatlah kita ambil hikmahnya, sebaiknya kita para Tao Yu dalam melaksanakan Semedi (cing co) secara alamiah (ce ran) agar mendapat hasil yang memuaskan seperti sang ulat sutera yang berhasil menjadi kupu-kupu cantik. Tetapi jangan lupa untuk selalu meminta bantuan Fu Fak Sen kita. Kita para Tao Yu juga jangan merasa tidak puas akan keadaan sekarang, jalanilah hidup ini apa adanya secara alami, kelak bila mendapatkan Hok Kie, akan merasakan sendiri keberuntungannya.
Salam Tao.